Aku
yang selalu tenang menunggu kamu habiskan di atas meja setiap pagi, sebelum
bertemu hiruk – pikuknya kehidupan. Yang setia menunggumu di balik pintu, menjaga
hangat untuk diteguk setelah lelahmu. Yang kamu bisa tebak nikmatnya hanya dari
kepulan asap sebelum kamu minum.
Kopi.
Sahabatmu di kala pagi, kekasihmu di ujung deadline.
Sahabatmu di kala pagi, kekasihmu di ujung deadline.
Kesederhanaanku dalam menyajikan diri merupakan suatu hal yang spesial. Aku tak perlu maludengan warnaku yang hitam, aku berani mengenalkan kepadamu bahwa pahit itu sebenarnya nikmat -- begitu juga hidup.
Di negaramu aku ini spesial, jarang
ada warung menamai dirinya dengan mereka yang setara denganku. Sebutlah susu,
yoghurt ataupun jus. Mereka menamai dirinya warung kopi, bukan warung susu,
warung yoghurt maupun warung jus.
Kopi.
Sepahit apa pun, kita harus
menenggak habis untuk merasakan nikmatnya. Jika kurang suka pahit, kamu boleh
memberiku krim, susu, ataupun gula supaya kamu bisa lebih menikmatinya atau kamu
bisa saja membiarkannya tetap pahit. Supaya mengingatkanmu bahwa di luar sana
banyak yang manis tapi belum tentu nikmat.
Kopi.
Aku bisa menjelma menjadi beberapa
rasa, dicocokkan dengan inginnya lidahmu. Ada Espresso yang dibuat dengan tekanan tinggi, Latte yang dipadukan dengan susu, Cappucino dengan tambahan susu, krim dan serpihan coklat. Kopi
tubruk yang asli Indonesia yang dimasak bersama gula, Mocca yang serupa Cappucino dan Latte, tetapi dengan tambahan sirup
coklat dan puluhan macam lainnya.
Tapi, yang satu pasti kamu harus ingat. Bagaimana pun macam jenisku, tetaplah dari sebuah biji, melalu proses pemilihan diantara ribuan biji lainnya, dikumpulkan dengan yang terbaik, kemudian melalui pemanggangan, penggilingan dan perebusan. Hingga dapat bercumbu dengan indra pengecapmu. Selama ini kamu hanya tau, aku yang siap kamu nikmati. Bukan aku yang melalui proses keras untuk bertemu denganmu. Hargailah.
Tapi, yang satu pasti kamu harus ingat. Bagaimana pun macam jenisku, tetaplah dari sebuah biji, melalu proses pemilihan diantara ribuan biji lainnya, dikumpulkan dengan yang terbaik, kemudian melalui pemanggangan, penggilingan dan perebusan. Hingga dapat bercumbu dengan indra pengecapmu. Selama ini kamu hanya tau, aku yang siap kamu nikmati. Bukan aku yang melalui proses keras untuk bertemu denganmu. Hargailah.
Kopi.
Tuhan menciptakan bijinya dan
manusia menciptakan sachet untuk
mengaduk. Sungguh, aku suka dengan inovasi dalam kesederhaan. Selain itu kamu
bisa menikmati hangatku dari cangkir. Atau kalau mau merasa lebih Indonesia,
kamu bisa menikmati dari tatakannya. Aku tidak terpaku pada satu metode. Selain
itu, aku juga bisa menyesuaikan dengan keadaanmu. Sesekali kamu bisa bertemu
aku dalam cup starbucks, nescafe can dan kopi sachet. Aku menyeluruh, tidak membedakan
dan kaku.
Kopi.
Aku selalu ada dalam perkumpulan diskusi, entah mereka yang berfilosofi bodoh, pertemuan reuni, ataupun dua orang yang baru kenal. Aku suka diantara mereka. Yang kutau satu, belum pernah kudengar ada aku diantara perselisihan.Oh iya, aku punya teman yang sering bersamaku. Rokok namanya. Berbagai macam merek, tapi yang pasti kami selalu ada dalam perbicangan tenang.
Kamu ingat tentang perselishan antara GAM dan TNI ? Kabarnya mereka telah melakukan pertemuan di Sabang. Tidak ada senjata, tidak ada pertempuran. Hanya ada perbicangan bagai kawan yang telah lama tak jumpa. Dan kamu tau ? ada kami diantara mereka, kami memang tercipta untuk menghangatkan suasana.
Ada yang menghindariku, mengandung
kafein, takut candu katanya. Jangan salahkan aku jika kamu candu. Yang ku tau,
aku selalu siap bersamamu dalam suasana apapun, entah santai, dalam masalah
ataupun dikejar deadline. Bukannya
sudah kuberitahu?
-- 03.20 WIB
09 Oktober 2013 -- Jembatan Cincin - Jatinangor.
Tulisan ini dibuat untuk memenuhi kriteria penerimaan UKM CCfikomunpad
Tidak ada komentar:
Posting Komentar